Sunan Abu Daud Hadits 2919 - Syarat Bolehnya Transaksi Araya
Syarat Utama Jual Beli Araya dengan Penaksiran
Sunan Abu Daud : 2919
Sunan Abu DaudNomor Hadis 2919
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ بُشَيْرِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ التَّمْرِ بِالتَّمْرِ وَرَخَّصَ فِي الْعَرَايَا أَنْ تُبَاعَ بِخَرْصِهَا يَأْكُلُهَا أَهْلُهَا رُطَبًا
Sahl bin Abu Hatsmah Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang dari menjual kurma dengan kurma, dan memberikan keringanan dalam 'araya (menjual buah di atas pohon) yang dijual dengan menaksirnya, yang dimakan pemiliknya dalam keadaan berupa ruthab.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Pengecualian jual beli araya mengharuskan adanya metode penaksiran (mengira-ngira hasil panen) secara hati-hati.
- Buah segar yang dibeli dari pohon secara araya diperuntukkan untuk dimakan sendiri, bukan dijual kembali.
- Aturan ini menjaga keseimbangan antara memberi bantuan untuk masyarakat lemah dan menjaga keadilan takaran.
