Sunan Ibnu Majah Hadits 1932 - Ayat Persusuan yang Dimansukh
Sejarah Hukum Persusuan: Ayat yang Dimansukh Menurut 'Aisyah
Sunan Ibnu Majah : 1932
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1932
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عَبْدِ الصَّمَدِ بْنِ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ فِيمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ سَقَطَ لَا يُحَرِّمُ إِلَّا عَشْرُ رَضَعَاتٍ أَوْ خَمْسٌ مَعْلُومَاتٌ
Aisyah Diriwayatkan dari:
Termasuk dari ayat yang diturunkan Allah dari Al Qur'an kemudian dimansukh (dihapus) adalah: "Tidak menjadikan mahram kecuali sepuluh susuan atau lima yang dimaklumi."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Adanya konsep nasikh dan mansukh (penghapusan hukum/teks) di dalam fase turunnya wahyu.
- Pernah ada ketentuan sepuluh atau lima kali susuan yang dimaklumi sebelum akhirnya ayat tersebut disalin.
- Keterangan dari 'Aisyah menjadi rujukan utama para ulama dalam menghitung jumlah minimal persusuan.
