Sunan Ibnu Majah Hadits 57 - Sifat Malu Adalah Bagian dari Keimanan
Hadits Sunan Ibnu Majah Nomor 57: Teguran Nabi Tentang Pentingnya Sifat Malu
Sunan Ibnu Majah : 57
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 57
حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ إِنَّ الْحَيَاءَ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
Telah menceritakan kepada kami [Sahl bin Abu Sahl] dan [Muhammad bin Abdullah bin Yazid] keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Az Zuhri] dari [Salim] dari [Bapaknya] ia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki memberi nasihat kepada saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Sesungguhnya malu adalah bagian iman."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Sifat malu dinilai positif dalam Islam dan merupakan bagian dari cabang keimanan seseorang.
- Nabi melarang mencela orang yang memiliki sifat malu karena sifat itu adalah bagian dari agama.
- Keimanan seseorang tercermin dari adanya rasa malu dalam dirinya.
