Shahih Bukhari Hadits 2315 - Hak Syuf'ah Pada Properti yang Belum Dibagi
Memahami Aturan Hak Syuf'ah Tanah dalam Islam
Shahih Bukhari : 2315
Shahih BukhariNomor Hadis 2315
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ إِنَّمَا جَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشُّفْعَةَ فِي كُلِّ مَا لَمْ يُقْسَمْ فَإِذَا وَقَعَتْ الْحُدُودُ وَصُرِّفَتْ الطُّرُقُ فَلَا شُفْعَةَ
Jabir bin Abdullah Diriwayatkan dari:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan Asy-Syuf'ah pada setiap tanah yang belum dibagi. Apabila sudah terdapat batasan-batasan dan jalan yang terpisah maka tidak ada syuf'ah lagi.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Menetapkan dan mendahulukan permohonan tawar saudara kandung atau pengikut modal sebagai pencegahan cekcok masa depan.
- Status jatah keistimewaan syuf'ah seketika pudar kala pagar sekat maupun tugu tanda patok lahan dinaikkan masing-masing.
- Menghargai batasan persil jalan mandiri sebagai syarat hukum bahwa kekuasaan jual ke pihak asing kini merdeka mutlak.
