Shahih Bukhari Hadits 2559 - Hak Upah Pengasuh Anak Yatim
Aturan Mengambil Upah Sebagai Pengelola Harta Yatim
Shahih Bukhari : 2559
Shahih BukhariNomor Hadis 2559
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا { وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ } قَالَتْ أُنْزِلَتْ فِي وَالِي الْيَتِيمِ أَنْ يُصِيبَ مِنْ مَالِهِ إِذَا كَانَ مُحْتَاجًا بِقَدْرِ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ
Aisyah Diriwayatkan dari:
Tentang firman Allah(Dan barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut) (QS. An Nisaa': 6), dia berkata: "Ayat ini turun berkenaan dengan seorang yang memelihara anak yatim lalu ingin mengambil harta anak yatim tersebut apabila membutuhkannya sesuai dengan jumlah hartanya secara ma'ruf (yang patut)."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Pihak yang mampu secara finansial dilarang memakan atau mencari upah dari harta anak yatim.
- Wali miskin yang mengorbankan waktunya mengurus harta yatim boleh mengambil sekadar upah yang masuk akal.
- Harta peninggalan anak yatim harus dijaga dengan hati-hati dari risiko penyalahgunaan.
