Shahih Bukhari Hadits 3207 - Kisah Bayi Bisa Berbicara
Jangan Tertipu Penampilan: Kisah Bayi Bani Israil yang Bisa Berbicara
Shahih Bukhari : 3207
Shahih BukhariNomor Hadis 3207
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بَيْنَا امْرَأَةٌ تُرْضِعُ ابْنَهَا إِذْ مَرَّ بِهَا رَاكِبٌ وَهِيَ تُرْضِعُهُ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تُمِتْ ابْنِي حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ هَذَا فَقَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ ثُمَّ رَجَعَ فِي الثَّدْيِ وَمُرَّ بِامْرَأَةٍ تُجَرَّرُ وَيُلْعَبُ بِهَا فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا فَقَالَ أَمَّا الرَّاكِبُ فَإِنَّهُ كَافِرٌ وَأَمَّا الْمَرْأَةُ فَإِنَّهُمْ يَقُولُونَ لَهَا تَزْنِي وَتَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَيَقُولُونَ تَسْرِقُ وَتَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ
Abu Hurairah Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Ada seorang wanita dari kalangan Bani Isra'il yang ketika sedang menyusui bayinya lewat seorang laki-laki tampan dan gagah sambil menunggang tunggangannya di hadapan wanita itu. Wanita itu berkata: 'Ya Allah, janganlah Engkau matikan anakku sebelum dia menjadi seperti pemuda itu.' Maka spontan saja bayinya berkata: 'Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti dia.' Lalu dia kembali mengisap puting susu ibunya.Kemudian keduanya lewat di hadapan seorang wanita yang sedang diseret dan dipermainkan lalu ibu sang bayi berkata: 'Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti dia.' Maka sang bayi berkata: 'Ya Allah, jadikanlah aku seperti dia.' Bayi itu selanjutnya berkata: 'Sesungguhnya pemuda penunggang itu adalah orang kafir sedangkan wanita tadi, orang-orang menuduhnya kamu telah berbuat zina namun dia berkata: "Cukuplah bagiku Allah (sebagai Pelindung).' dan orang-orang mengatakan kamu mencuri maka dia pun tetap berkata: 'Cukuplah bagiku Allah (sebagai Pelindung).'"
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Harta kekayaan dan jabatan di dunia bukanlah ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah.
- Orang yang terlihat menderita dan difitnah di dunia bisa jadi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata Allah.
- Sebagai manusia, kita tidak boleh tertipu oleh penampilan luar dan harus lebih mengutamakan ketakwaan batin.
