Shahih Bukhari Hadits 3231 - Kemuliaan Manusia Karena Ketakwaan
Takwa dan Nasab Nabi Yusuf Sebagai Tolok Ukur Kemuliaan
Shahih Bukhari : 3231
Shahih BukhariNomor Hadis 3231
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ قَالَ أَتْقَاهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ قَالَ فَيُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ
Abu Hurairah Diriwayatkan dari:
Ditanyakan kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia?" Beliau Shallallahu 'alaihi wa salam menjawab: "Yang paling taqwa di antara mereka." Mereka berkata: "Bukan itu yang kami maksud." Beliau menjawab: "Kalau begitu, Yusuf, Nabiyullah."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Derajat kemuliaan utama seseorang di hadapan Allah diukur hanya dari kualitas ketakwaan hatinya, bukan sekadar dari hartanya.
- Garis keturunan dan nasab yang baik akan menjadi kebanggaan sempurna jika diiringi dengan sifat ketakwaan.
- Nabi Yusuf mendapat penghormatan khusus dari Rasulullah karena silsilahnya langsung bersambung kepada orang-orang pilihan Allah.
