Sunan Ibnu Majah Hadits 1624 - Perubahan Pandangan Mata Saat Shalat
Hadits Sunan Ibnu Majah: Sejarah Arah Pandangan Mata Ketika Sedang Shalat
Sunan Ibnu Majah : 1624
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1624
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ حَدَّثَنَا خَالِي مُحَمَّدُ ابْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ السَّائِبِ بْنِ أَبِي وَدَاعَةَ السَّهْمِيُّ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ الْمَخْزُومِيُّ حَدَّثَنِي مُصْعَبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ بِنْتِ أَبِي أُمَيَّةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ النَّاسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ الْمُصَلِّي يُصَلِّي لَمْ يَعْدُ بَصَرُ أَحَدِهِمْ مَوْضِعَ قَدَمَيْهِ فَلَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ النَّاسُ إِذَا قَامَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي لَمْ يَعْدُ بَصَرُ أَحَدِهِمْ مَوْضِعَ جَبِينِهِ فَتُوُفِّيَ أَبُو بَكْرٍ وَكَانَ عُمَرُ فَكَانَ النَّاسُ إِذَا قَامَ أَحَدُهُمْ يُصَلِّي لَمْ يَعْدُ بَصَرُ أَحَدِهِمْ مَوْضِعَ الْقِبْلَةِ وَكَانَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَكَانَتْ الْفِتْنَةُ فَتَلَفَّتَ النَّاسُ يَمِينًا وَشِمَالًا
Ummu Salamah binti Abi Umayyah Diriwayatkan dari:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata: "Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apabila salah seorang dari mereka shalat, pandangannya tidak melebihi kedua kakinya. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal, maka apabila salah seorang dari mereka shalat, pandangannya tidak melampaui tempat keningnya, hingga Abu Bakar pun meninggal. Pada masa Umar, apabila salah seorang dari mereka shalat, pandangannya tidak melampaui tempat kiblat. Dan datang masa Utsman bin Affan dan terjadi fitnah, maka orang-orang berpaling ke kanan dan ke kiri. "
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Kekhusyukan tertinggi dicapai pada masa Rasulullah, di mana pandangan mata saat shalat benar-benar dijaga di area kaki.
- Ada pergeseran batas pandangan mata yang diperbolehkan atau dilakukan para sahabat dari masa ke masa pemerintahan kekhalifahan.
- Munculnya fitnah di tengah umat dapat memengaruhi kualitas kekhusyukan ibadah shalat masyarakat secara umum.
