Sunan Ibnu Majah Hadits 1947 - Mahar Pembebasan Diri Perkawinan Shafiah
Kisah Pernikahan Nabi dengan Shafiah dan Maharnya
Sunan Ibnu Majah : 1947
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1947
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدَةَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَارَتْ صَفِيَّةُ لِدِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ ثُمَّ صَارَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ فَتَزَوَّجَهَا وَجَعَلَ عِتْقَهَا صَدَاقَهَا قَالَ حَمَّادٌ فَقَالَ عَبْدُ الْعَزِيزِ لِثَابِتٍ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَنْتَ سَأَلْتَ أَنَسًا مَا أَمْهَرَهَا قَالَ أَمْهَرَهَا نَفْسَهَا
Anas Diriwayatkan dari:
Shafiah pernah menjadi isteri Dihyah Al Kalbi, kemudian ia diperisteri oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menikahinya dengan mahar pembebasan dirinya." Hammad berkata: "Abdul Aziz berkata: "Wahai Abu Muhammad, apakah engkau pernah bertanya Anas, apa mahar yang diberikan oleh Nabi?" ia berkata: "Maharnya adalah (pembebasan) dirinya."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Pembebasan atau kemerdekaan seorang budak wanita dapat dijadikan sebagai mahar pernikahan yang sah dalam Islam.
- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan teladan nyata dalam mengangkat derajat wanita dari status budak menjadi istri nabi (Ummul Mukminin).
- Mahar tidak selamanya harus berupa harta benda yang bernilai materi, melainkan bisa berupa manfaat non-materi yang bernilai tinggi seperti kemerdekaan.
