Sunan Ibnu Majah Hadits 1964 - Asbabun Nuzul Ayat Perdamaian dalam Rumah Tangga
Penjelasan Sayyidah 'Aisyah Mengenai Ayat Perdamaian Suami Istri
Sunan Ibnu Majah : 1964
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1964
حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ { وَالصُّلْحُ خَيْرٌ } فِي رَجُلٍ كَانَتْ تَحْتَهُ امْرَأَةٌ قَدْ طَالَتْ صُحْبَتُهَا وَوَلَدَتْ مِنْهُ أَوْلَادًا فَأَرَادَ أَنْ يَسْتَبْدِلَ بِهَا فَرَاضَتْهُ عَلَى أَنْ تُقِيمَ عِنْدَهُ وَلَا يَقْسِمَ لَهَا
Aisyah Diriwayatkan dari:
Ayat '(Dan damai itu lebih baik) ' ini turun kepada seorang laki-laki yang mempunyai seorang isteri yang telah lama hidup bersamanya, dan telah melahirkan beberapa anak, kemudia ia ingin menceraikannya. Lalu isterinya merelakannya dengan syarat, ia tetap boleh tinggal bersamanya meskipun tidak mendapatkan jatah giliran.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Islam membuka pintu perdamaian dalam rumah tangga untuk menghindari terjadinya perceraian.
- Seorang istri berhak merelakan sebagian haknya, seperti jatah hari giliran, demi mempertahankan ikatan pernikahan.
- Penyelesaian masalah rumah tangga dengan cara musyawarah dan kerelaan bersama sangat dianjurkan dalam Islam.
