Sunan Ibnu Majah Hadits 1978 - Hukum Sambung Rambut Meski untuk Pernikahan
Ketegasan Hukum Larangan Menyambung Rambut Meskipun Karena Sakit
Sunan Ibnu Majah : 1978
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1978
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ فَاطِمَةَ عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ ابْنَتِي عُرَيِّسٌ وَقَدْ أَصَابَتْهَا الْحَصْبَةُ فَتَمَرَّقَ شَعْرُهَا فَأَصِلُ لَهَا فِيهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ
Asma' Diriwayatkan dari:
Seorang wanita mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Sesungguhnya putriku akan menikah, namun ia terserang penyakit hingga rambutnya rontok, maka bolehkah aku menyambung rambutnya?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda: "Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta disambung rambutnya."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Larangan menyambung rambut bersifat mutlak dan tetap berlaku meskipun untuk tujuan berhias di hari pernikahan.
- Kondisi rambut rontok akibat penyakit campak atau penyakit lainnya tidak menjadi uzur syar'i untuk melakukan penyambungan rambut.
- Kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya harus didahulukan daripada adat atau keinginan tampil menawan dengan cara yang dilarang.
