Sunan Abu Daud Hadits 323 - Panduan Menyucikan Najis Kencing Bayi
Menyucikan Kencing Bayi Berdasarkan Praktik Ummu Salamah
Sunan Abu Daud : 323
Sunan Abu DaudNomor Hadis 323
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ أَبِي الْحَجَّاجِ أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أُمِّهِ أَنَّهَا أَبْصَرَتْ أُمَّ سَلَمَةَ تَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى بَوْلِ الْغُلَامِ مَا لَمْ يَطْعَمْ فَإِذَا طَعِمَ غَسَلَتْهُ وَكَانَتْ تَغْسِلُ بَوْلَ الْجَارِيَةِ
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Amru bin Abu Al Hajjaj, Abu Ma'mar] telah menceritakan kepada kami [Abdul Warits] dari [Yunus] dari [Al Hasan] dari [Ibunya] bahwasanya:Dia pernah melihat [Ummu Salamah] menuangkan air di atas kencing anak laki-laki selama dia belum makan, apabila telah makan, dia mencucinya. Dan dia mencuci kencing anak perempuan.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Air cukup dituangkan di atas najis kencing bayi laki-laki yang belum mengonsumsi makanan tambahan.
- Kencing bayi perempuan selalu wajib dicuci secara menyeluruh tanpa melihat apakah ia sudah makan atau belum.
- Praktik Ummu Salamah menunjukkan cara penerapan hukum Islam yang memudahkan urusan sehari-hari.
- Aturan najis ringan (mukhaffafah) untuk bayi laki-laki gugur ketika bayi mulai diberi makanan biasa.
