Shahih Bukhari Hadits 1759 - Awal Sejarah Perintah Puasa Asyura dan Ramadhan
Perubahan Hukum Puasa Hari Asyura dalam Islam
Shahih Bukhari : 1759
Shahih BukhariNomor Hadis 1759
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ صَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تُرِكَ وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ لَا يَصُومُهُ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ صَوْمَهُ
Ibnu Umar Diriwayatkan dari:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melaksanakan puasa hari 'Asyura' (10 Muharam) lalu memerintahkan (para sahabat) untuk melaksanakannya pula. Setelah Allah mewajibkan puasa Ramadhan, maka puasa hari 'Asyura' ditinggalkan. Dan 'Abdullah tidaklah melaksanakan puasa hari 'Asyura' kecuali bila bertepatan dengan hari-hari puasa yang biasa dikerjakannya.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Banyak syariat yang diberikan kepada kaum muslimin secara bertahap supaya umat mudah dan nyaman dalam belajarnya.
- Status diwajibkannya puasa hari Asyura telah dihapus sejak kewajiban puasa utuh Ramadhan dipastikan melalui wahyu.
- Setiap umat Islam bebas memilih apakah ingin puasa pada hari Asyura sebagai amalan bebas bernilai pahala atau memilih untuk tidak.
