Shahih Bukhari Hadits 1893 - Mengqadha I'tikaf
Menjaga Kemurnian Ibadah dan Hukum Mengqadha I'tikaf
Shahih Bukhari : 1893
Shahih BukhariNomor Hadis 1893
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ بِنْتِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلَمَّا انْصَرَفَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ إِذَا أَخْبِيَةٌ خِبَاءُ عَائِشَةَ وَخِبَاءُ حَفْصَةَ وَخِبَاءُ زَيْنَبَ فَقَالَ أَالْبِرَّ تَقُولُونَ بِهِنَّ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمْ يَعْتَكِفْ حَتَّى اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ
Aisyah Diriwayatkan dari:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak beri'tikaf. Ketika Beliau menuju tempat khusus untuk i'tikaf Beliau, Beliau melihat ada tenda-tenda, yaitu tendanya 'Aisyah, Hafshah dan Zainab. Maka Beliau berkata: Apakah kalian melihat kebaikan ada padanya (dengan membuat tenda-tenda ini)?" Akhirnya Beliau pergi dan tidak jadi i'tikaf. Kemudian Beliau beri'tikaf sepuluh hari pada bulan Syawal."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Menjaga niat yang bersih dari rasa iri atau cemburu sangat ditekankan dalam beramal.
- Seorang pemimpin atau kepala keluarga berhak memberikan teguran berupa pembatalan kegiatan ibadah sunnah untuk tujuan mendidik.
- Anjuran untuk mengganti amal kebaikan yang terlewatkan dengan melakukannya di waktu yang berbeda.
