Sunan Ibnu Majah Hadits 1839 - Larangan Hidup Membujang dalam Islam
Larangan Tegas Hidup Membujang dan Fitrah Para Utusan Allah
Sunan Ibnu Majah : 1839
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1839
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ آدَمَ وَزَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ قَالَا حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ التَّبَتُّلِ زَادَ زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ وَقَرَأَ قَتَادَةُ { وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً }
Samurah Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang At Tabattul (hidup membujang)." Zaid bin Akhzam menambahkan, "Qatadah membaca ayat: " Dan telah Kami utus rasul-rasul sebelum kamu, dan Kami jadikan bagi mereka isteri-isteri dan keturunan." QS. Ar Ra'ad: 38.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara resmi melarang umatnya memilih hidup membujang.
- Memiliki pendamping hidup (istri) dan keturunan adalah bagian dari sunnah serta fitrah para rasul terdahulu.
- Surat Ar-Ra'd ayat 38 menjadi dalil pendukung bahwa pernikahan adalah bagian dari tatanan kehidupan para utusan Allah.
