Sunan Ibnu Majah Hadits 1915 - Bantahan Mitos Yahudi Mengenai Posisi Jima
Bolehkah Berhubungan Suami Istri dari Arah Belakang?
Sunan Ibnu Majah : 1915
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1915
حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ وَجَمِيلُ بْنُ الْحَسَنِ قَالَا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ كَانَتْ يَهُودُ تَقُولُ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي قُبُلِهَا مِنْ دُبُرِهَا كَانَ الْوَلَدُ أَحْوَلَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ { نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ }
Jabir bin Abdullah Diriwayatkan dari:
Orang-orang Yahudi berkata: 'barang siapa mensetubuhi kemaluan isterinya melalui belakang, maka mata anaknya akan menjadi juling'. Lalu Allah Subhaanahu menurunkan ayat "(Isteri-isteri kalian adalah ladang kalian, maka datangilah ladang kalian dari mana engkau kehendaki)."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Membantah anggapan salah orang Yahudi yang mengklaim posisi jima tertentu menyebabkan anak juling.
- Islam membolehkan variasi posisi hubungan intim dari arah mana saja asalkan tetap pada kemaluan depan.
- Ayat Al-Qur'an turun untuk meluruskan pemahaman keliru yang berkembang di tengah masyarakat.
