Sunan an-Nasai Hadits 2677 - Wahyu Tentang Penggabungan Haji
Kebebasan Mengamalkan Ibadah Haji Sesuai Sunnah Nabi
Sunan an-Nasai : 2677
Sunan an-NasaiNomor Hadis 2677
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ عِمْرَانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ حَجٍّ وَعُمْرَةٍ ثُمَّ لَمْ يَنْزِلْ فِيهَا كِتَابٌ وَلَمْ يَنْهَ عَنْهُمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيهِمَا رَجُلٌ بِرَأْيِهِ مَا شَاءَ
Imran Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menggabung antara haji dan umrah kemudian wahyu tidak turun mengupasnya, dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melarang keduanya, sehingga seseorang dapat berbicara apa yang ia kehendaki mengenai keduanya sesuai dengan pendapatnya.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Penetapan syariat ibadah selalu merujuk pada amalan Rasulullah dan ketetapan Al-Qur'an.
- Boleh bagi kita untuk mengabaikan pendapat pribadi manusia jika hal itu bertentangan dengan sunnah.
- Ketenangan dalam menjalankan ibadah haji karena dalilnya sudah sangat terang dan jelas.
