Sunan Abu Daud Hadits 3033 - Kepastian Takaran dan Wujud Makanan
Pentingnya Menakar Makanan Sebelum Dijual Kembali
Sunan Abu Daud : 3033
Sunan Abu DaudNomor Hadis 3033
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ وَعُثْمَانُ ابْنَا أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ابْتَاعَ طَعَامًا فَلَا يَبِعْهُ حَتَّى يَكْتَالَهُ زَادَ أَبُو بَكْرٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ قَالَ أَلَا تَرَى أَنَّهُمْ يَتَبَايَعُونَ بِالذَّهَبِ وَالطَّعَامُ مُرَجًّى
Ibnu Abbas Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barangsiapa membeli makanan, maka janganlah ia menjualnya hingga menakarnya."Abu Bakr menambahkan: "Ia berkata: "Kemudian aku sampaikan kepada Ibnu Abbas, ia pun berkata: "Tidakkah engkau melihat bahwa mereka melakukan jual beli dengan emas, sementara makanan tersebut tertunda (belum diserahkan)."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Pembeli wajib menguji takaran ulang dan menguasai barang dagangannya dengan pasti sebelum melemparnya kembali ke konsumen lain.
- Transaksi jual beli atas barang yang belum dipegang takarannya sangat rentan menyerupai praktik pertukaran uang dengan uang semata.
- Kejelasan wujud benda dan kepastian ukuran menjadi kunci keabsahan sebuah akad transaksi yang diberkahi hukum Islam.
