Shahih Bukhari Hadits 1965 - Hak Khiyar Majelis
Memahami Aturan Hak Khiyar Dalam Jual Beli Menurut Islam
Shahih Bukhari : 1965
Shahih BukhariNomor Hadis 1965
حَدَّثَنَا صَدَقَةُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ قَالَ سَمِعْتُ نَافِعًا عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُتَبَايِعَيْنِ بِالْخِيَارِ فِي بَيْعِهِمَا مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ يَكُونُ الْبَيْعُ خِيَارًا قَالَ نَافِعٌ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا اشْتَرَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ فَارَقَ صَاحِبَهُ
Ibnu Umar Diriwayatkan dari:
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan) dalam jual beli selama keduanya belum berpisah, atau jual beli menjadi khiyar (terjadi dengan pilihan)."Nafi' berkata: Adalah Ibnu 'Umar bila membeli sesuatu, baru menganggapnya telah terjadi jual beli bila sudah berpisah dari penjualnya.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Islam memberikan kelonggaran bagi penjual dan pembeli untuk memikirkan ulang transaksinya selama mereka belum meninggalkan tempat.
- Saat kedua pihak sudah pergi dan berpisah secara fisik dari tempat jual beli, maka transaksi tersebut dianggap telah sah dan mengikat.
- Hak khiyar diterapkan agar tidak ada pihak yang merasa terburu-buru, tertipu, atau menyesal setelah melakukan pembayaran.
- Diperbolehkan membuat syarat waktu pilihan (khiyar syarat) jika dirasa perlu agar transaksi lebih aman.
