Shahih Bukhari Hadits 2060 - Batasan Upah bagi Wali Anak Yatim
Aturan dan Batasan Mengambil Upah Pengelolaan Harta Anak Yatim
Shahih Bukhari : 2060
Shahih BukhariNomor Hadis 2060
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ فَرْقَدٍ قَالَ سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ عُرْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ { وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ } أُنْزِلَتْ فِي وَالِي الْيَتِيمِ الَّذِي يُقِيمُ عَلَيْهِ وَيُصْلِحُ فِي مَالِهِ إِنْ كَانَ فَقِيرًا أَكَلَ مِنْهُ بِالْمَعْرُوفِ
Aisyah Diriwayatkan dari:
(Tentang ayat) {WAMAN KAANA GHANIYYAN FALYASTA'FIF WAMAN KAANA FAQIIRAN FALYA'KUL BIL MA'RUUF} (barangsiapa diantara pemelihara itu yang mampu maka hendaknya ia menahan diri dari memakan harta anak yatim itu, dan barangsiapa yang miskin maka ia boleh makan harta itu menurut yang patut) (An Nisaa': 6), ayat ini turun pada wali anak yatim yang memelihara dan menjaga hartanya, dan jika ia seorang miskin maka ia boleh memakannya dengan cara ma'ruf (yang patut).
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Orang yang sudah berkecukupan diharamkan mengambil upah dari jerih payahnya mengelola harta anak yatim.
- Pengurus yang miskin dibolehkan mengambil bagian sewajarnya sebagai upah pekerjaannya mengurus aset tersebut.
- Islam sangat melindungi keberlangsungan hidup dan masa depan ekonomi seorang anak yatim dari keserakahan.
