Sunan Ibnu Majah Hadits 1648 - Pengalaman Puasa Dua Puluh Sembilan Hari
Fakta Masa Nabi: Puasa Ramadhan Sering Dua Puluh Sembilan Hari
Sunan Ibnu Majah : 1648
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 1648
حَدَّثَنَا مُجَاهِدُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مَالِكٍ الْمُزَنِيُّ حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا صُمْنَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعًا وَعِشْرِينَ أَكْثَرُ مِمَّا صُمْنَا ثَلَاثِينَ
Abu Hurairah Diriwayatkan dari:
Pada masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kami lebih banyak berpuasa selama dua puluh sembilan hari dari pada kami berpuasa selama tiga puluh hari.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Secara historis, puasa Ramadhan di zaman Nabi lebih banyak berlangsung selama dua puluh sembilan hari.
- Jumlah hari puasa yang dua puluh sembilan hari adalah hal yang lumrah dan sesuai sunnah qamariyah.
- Penetapan umur bulan ibadah murni bersandar pada rukyatul hilal, bukan pada keinginan menggenapkan hari semata.
