Sunan Ibnu Majah Hadits 232 - Keutamaan Menghafal dan Menyebarkan Hadits
Doa Rasulullah untuk Penghafal dan Penyampai Hadits Nabi
Sunan Ibnu Majah : 232
Sunan Ibnu MajahNomor Hadis 232
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَعِيلَ الْحَلَبِيُّ عَنْ مُعَانِ بْنِ رِفَاعَةَ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ بْنِ بُخْتٍ الْمَكِّيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَضَّرَ اللَّهُ عَبْدًا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ بَلَّغَهَا عَنِّي فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
Anas bin Malik Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah akan memperindah wajah seorang hamba, ia mendengar perkataanku lalu merekamnya dengan hati, kemudian menyampaikannya atas namaku. Berapa banyak pembawa (menyampaikan) fikih namun tidak faham fikih, dan berapa banyak orang yang membawa (menyampaikan) fikih kepada orang lain yang lebih faham fikih darinya."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Allah memberikan keutamaan berupa keindahan wajah bagi orang yang mendengar, menghafal, dan menyampaikan hadits Nabi.
- Merekam atau menjaga keaslian teks perkataan Nabi di dalam hati merupakan bagian penting dalam menyebarkan ilmu.
- Seseorang bisa menjadi pembawa teks fikih tanpa harus memiliki pemahaman mendalam tentang isinya.
- Ilmu terkadang ditransfer kepada orang lain yang tingkat pemahamannya jauh lebih ahli dan mendalam.
