Sunan an-Nasai Hadits 1424 - Perbedaan Rakaat Sesuai Kewajiban Kondisi
Ketetapan Kewajiban Jumlah Rakaat Berdasarkan Kondisi Jamaah
Sunan an-Nasai : 1424
Sunan an-NasaiNomor Hadis 1424
أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ وَهْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ الرَّحِيمِ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدٌ عَنْ أَيُّوبَ وَهُوَ ابْنُ عَائِذٍ عَنْ بُكَيْرِ بْنِ الْأَخْنَسِ عَنْ مُجَاهِدٍ أَبِي الْحَجَّاجِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فُرِضَتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعًا وَصَلَاةُ السَّفَرِ رَكْعَتَيْنِ وَصَلَاةُ الْخَوْفِ رَكْعَةً
Ibnu Abbas Diriwayatkan dari:
Shalat empat raka'at diwajibkan bagi yang bermukim, melalui lisan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun shalat safar adalah dua raka'at dan shalat Khauf dilaksanakan satu raka'at.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Sembahyang wajib empat rakaat penuh mesti dilakukan seluruhnya ketika seorang muslim tinggal tetap berdiam di rumahnya sendiri secara damai.
- Kewajiban sembahyang harian disusutkan sebanyak dua rakaat demi memberi kelancaran ibadah sebagai kewajiban orang penempuh jarak perjalanan musafir jauh.
- Apabila muslim berhadapan dengan posisi bahaya mendesak sampai jiwa terancam parah, agama merestui kegiatan menyembah tuhan berlangsung sesingkat gerak durasi tunggal atau satu rakaat utuh.
