Sunan an-Nasai Hadits 3218 - Larangan Memaksa Wanita Yatim
Perlindungan Hak Wanita Yatim dari Pernikahan Paksa
Sunan an-Nasai : 3218
Sunan an-NasaiNomor Hadis 3218
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تُسْتَأْمَرُ الْيَتِيمَةُ فِي نَفْسِهَا فَإِنْ سَكَتَتْ فَهُوَ إِذْنُهَا وَإِنْ أَبَتْ فَلَا جَوَازَ عَلَيْهَا
Abu Hurairah Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wanita yatim dimintai persetujuan mengenai dirinya, apabila ia terdiam, itu adalah izinnya dan apabila ia menolak maka tidak boleh memaksanya."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Islam memberikan perhatian dan perlindungan ekstra terhadap hak-hak wanita yang sudah tidak memiliki ayah (yatim).
- Wali tidak diizinkan menggunakan kekuasaannya untuk melangsungkan akad pernikahan jika wanita yatim menolak tawaran tersebut.
- Diam merupakan tanda persetujuan yang sah, namun penolakan eksplisit menggugurkan rencana pernikahan secara mutlak.
- Pentingnya bersikap adil dan amanah dalam mengasuh serta menentukan masa depan anak yatim yang berada di bawah perwalian.
