Sunan an-Nasai Hadits 3309 - Batasan Hukum dan Pergaulan
Ketetapan Rasulullah Tentang Hukuman Menggauli Budak Istri
Sunan an-Nasai : 3309
Sunan an-NasaiNomor Hadis 3309
أَخْبَرَنَا أَبُو دَاوُدَ قَالَ حَدَّثَنَا عَارِمٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي رَجُلٍ وَقَعَ بِجَارِيَةِ امْرَأَتِهِ إِنْ كَانَتْ أَحَلَّتْهَا لَهُ فَأَجْلِدْهُ مِائَةً وَإِنْ لَمْ تَكُنْ أَحَلَّتْهَا لَهُ فَأَرْجُمْهُ
An Nu'man bin Basyir Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda mengenai seorang laki-laki yang menggauli sahaya isterinya: "Apabila ia menghalalkan untuknya, saya mencambuknya seratus kali, dan apabila ia tidak menghalalkan untuknya, saya merajamnya."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Agama Islam membedakan tingkat hukuman secara adil berdasarkan status pelanggaran dan bukti pendukungnya.
- Hukuman cambuk seratus kali tetap berlaku walaupun sudah ada izin istri, karena tindakan ini masuk dalam pelanggaran syariat.
- Tidak ada ampun bagi tindakan asusila berat yang digolongkan sebagai zina murni, di mana sanksi maksimalnya adalah rajam.
