Sunan an-Nasai Hadits 4860 - Ketentuan Nilai Curian Satu Dinar
Satu Dinar: Batas Tegas Hukuman Pidana Potong Tangan
Sunan an-Nasai : 4860
Sunan an-NasaiNomor Hadis 4860
أَخْبَرَنَا أَبُو الْأَزْهَرِ النَّيْسَابُورِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَيْمَنَ قَالَ لَمْ تُقْطَعْ الْيَدُ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا فِي ثَمَنِ الْمِجَنِّ وَقِيمَةُ الْمِجَنِّ يَوْمَئِذٍ دِينَارٌ
Aiman Diriwayatkan dari:
Tidak dipotong tangan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali mencuri barang seharga tameng, sedang harga tameng pada saat itu adalah satu dinar.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Penjatuhan hukuman sangat bergantung pada pemenuhan batas kerugian atau nishab.
- Satu dinar merupakan nilai ambang yang sangat diakui dan diterapkan pada zaman kenabian.
- Peradilan Islam mengajarkan objektivitas dengan menetapkan ukuran pasti atas suatu perkara kejahatan.
