Sunan an-Nasai Hadits 5520 - Larangan Wadah Guci Tembikar
Peringatan Membuat Air Nabidz dalam Wadah Guci Tembikar
Sunan an-Nasai : 5520
Sunan an-NasaiNomor Hadis 5520
أَخْبَرَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ قَالَ أَنْبَأَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ طَاوُسٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِابْنِ عُمَرَ أَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَبِيذِ الْجَرِّ قَالَ نَعَمْ قَالَ طَاوُسٌ وَاللَّهِ إِنِّي سَمِعْتُهُ مِنْهُ
Thawus Diriwayatkan dari:
Seorang laki-laki bertanya [Ibnu Umar], "Apakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang membuat perasan dalam guci (tembikar)?" ia menjawab, "Benar". Thawus berkata: "Demi Allah, aku mendengarnya dari dia."
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Wadah berbahan tanah liat atau tembikar pernah dilarang keras penggunaannya untuk merendam buah-buahan.
- Sifat pori-pori halus pada tanah liat bisa mempercepat air minuman manis berubah menjadi arak yang memabukkan.
- Patuh pada larangan Nabi tentang hal-hal keseharian bertujuan untuk mencegah datangnya keburukan sejak dini.
