Shahih Bukhari Hadits 1823 - Hukum Berbuka Puasa Saat Cuaca Mendung yang Menipu
Kisah Keliru Berbuka Puasa di Hari Tertutup Mendung dan Solusinya
Shahih Bukhari : 1823
Shahih BukhariNomor Hadis 1823
حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ فَاطِمَةَ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَتْ أَفْطَرْنَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ غَيْمٍ ثُمَّ طَلَعَتْ الشَّمْسُ قِيلَ لِهِشَامٍ فَأُمِرُوا بِالْقَضَاءِ قَالَ لَا بُدَّ مِنْ قَضَاءٍ وَقَالَ مَعْمَرٌ سَمِعْتُ هِشَامًا لَا أَدْرِي أَقَضَوْا أَمْ لَا
Asma' binti Abu Bakar Ash Shiddiq Diriwayatkan dari:
Kami pernah berbuka puasa pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika hari mendung, ternyata kemudian matahari tampak kembali, maka orang-orang diperintahkan untuk mengqadla'nya, dan Beliau bersabda: "Harus dilaksanakan qadha'."Dan [Ma'mar] berkata: aku mendengar [Hisyam]: Aku tidak tahu apakah mereka kemudian mengqadha'nya atau tidak".
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Gugurnya ibadah akibat kealpaan dalam meramal datangnya maghrib senantiasa dituntut penggantian qadha wajib.
- Harus menyiagakan tingkat kewaspadaan optimal menyoal jam buka sewaktu cuaca buram diselumput mendung gelap.
- Aturan hukum Islam menyediakan obat penawar nan nyata demi mengonfirmasi kecacatan pengamalan yang tidak diniatkan.
