Shahih Bukhari Hadits 2053 - Larangan Transaksi Sistem Muzabanah
Mengapa Jual Beli Muzabanah Dilarang dalam Islam?
Shahih Bukhari : 2053
Shahih BukhariNomor Hadis 2053
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمُزَابَنَةِ أَنْ يَبِيعَ ثَمَرَ حَائِطِهِ إِنْ كَانَ نَخْلًا بِتَمْرٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ كَرْمًا أَنْ يَبِيعَهُ بِزَبِيبٍ كَيْلًا وَإِنْ كَانَ زَرْعًا أَنْ يَبِيعَهُ بِكَيْلِ طَعَامٍ وَنَهَى عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ
Ibnu Umar Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang Al Muzaabanah (jual beli secara borongan tanpa diketahui takaran atau timbangannya), yaitu seseorang menjual buah kebunnya dengan ketentuan apabila pohon kurma dijual dengan buah kurma masak sebagai barter takarannya, apabila pohon anggur dijual dengan anggur kering sebagai barter takarannya, apabila benih dijual dengan makanan sebagai barter takarannya, dan Beliau melarang praktek semacam itu seluruhnya.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Jual beli dengan sistem tebakan dan borongan tanpa kepastian takaran berat adalah praktik yang dilarang (gharar).
- Menukar jenis barang pangan sejenis harus sangat memperhatikan kesamaan takaran agar terhindar dari riba.
- Islam melarang transaksi spekulasi demi mencegah rasa benci dan kerugian besar antara sesama muslim.
