Shahih Bukhari Hadits 1904 - Teguran Niat I'tikaf
Teguran Nabi Tentang Ibadah yang Tercampur Niat Bersaing
Shahih Bukhari : 1904
Shahih BukhariNomor Hadis 1904
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الْحَسَنِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي عَمْرَةُ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ أَنْ يَعْتَكِفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ فَأَذِنَ لَهَا وَسَأَلَتْ حَفْصَةُ عَائِشَةَ أَنْ تَسْتَأْذِنَ لَهَا فَفَعَلَتْ فَلَمَّا رَأَتْ ذَلِكَ زَيْنَبُ ابْنَةُ جَحْشٍ أَمَرَتْ بِبِنَاءٍ فَبُنِيَ لَهَا قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى انْصَرَفَ إِلَى بِنَائِهِ فَبَصُرَ بِالْأَبْنِيَةِ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا بِنَاءُ عَائِشَةَ وَحَفْصَةَ وَزَيْنَبَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَالْبِرَّ أَرَدْنَ بِهَذَا مَا أَنَا بِمُعْتَكِفٍ فَرَجَعَ فَلَمَّا أَفْطَرَ اعْتَكَفَ عَشْرًا مِنْ شَوَّالٍ
Aisyah Diriwayatkan dari:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahu bahwa Beliau akan beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Lalu 'Aisyah meminta izin kepada Beliau (untuk membuat bangunan (tenda) khusus) maka dia diizinkan. Kemudian Hafshah meminta 'Aisyah agar memintakan izin kepada Beliau untuknya lalu dilakukan oleh 'Aisyah. Ketika melihat hal itu, Zainab binti Jahsy memerintahkan pula untuk membuatkan tenda, maka tenda itu dibuat untuknya.'Aisyah berkata: Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bila telah selesai dari shalat, Beliau kembali ke tempat khusus i'tikaf. Maka Beliau melihat ada banyak tenda, lalu berkata: "Apa ini?" Mereka menjawab: "Ini tenda-tenda milik 'Aisyah, Hafshah dan Zainab". Maka Beliau bersabda: "Apakah mereka mengharapkan kebajikan dengan tenda-tenda ini? Aku tidak akan beri'tikaf." Maka Beliau pulang ke rumah. Setelah bulan Ramadhan berakhir Beliau i'tikaf sepuluh hari di bulan Syawal.
Pelajaran yang kita ambil dari hadits ini
- Keikhlasan niat menjadi faktor penentu diterima atau tidaknya sebuah amal ibadah.
- Rasa cemburu dan kompetisi yang berlebihan bisa merusak nilai ibadah sunnah.
- Diperbolehkan membatalkan niat ibadah sunnah demi tujuan memperbaiki akhlak orang lain dan menggantinya di waktu mendatang.
